Minggu, 02 Oktober 2016

dikala 2 cinta

hari-hari ku selama ini baik-baik saja. hubungan ku dengannya juga baik-baik saja..
sampai kau datang kedalam hidupku aku tahu mungkin kamu sedang mencari sosok perempuan yang kamu inginkan dan aku telah beruntung menjadi salah satu apa yang kamu inginkan. tapi sayang, kamu datang diwaktu yang salah..
ingin hati bersamamu, tapi kenyataan tidak semudah itu mengerti keinginan hati..

awalnya aku hanya menganggapmu sahabat dan tempat meluapkan curahan hati. tapi ternyata kamu menganggap itu lebih, padahal aku juga berusaha menutupi apa yang aku rasakan. perhatian - perhatian kecil muncul begitu saja dari sikap dan bicaramu. bagaimana aku (sebagai perempuan) tidak luluh dengan semua tindakan mu. kaulah laki-laki yang sangat mengertiku (mungkin karna kita sudah bersahabat 8 tahun!)

itu yang membuat ku sangat gusar, antara memilihmu atau tetap bertahan dengan cinta ku yang dulu. aku tak tau apa yang harusnya kulakukan. melepaskan salah satu diantara mereka pun aku tak sanggup. cinta yang selama aku jalani pun tidak semulus yang aku bayangkan, banyak kendala yang menghampiri hubungan ku ini, masalah orang tua hingga masalah tiap personal. yang mulai dari tidak direstui hingga direstui dan masalah sepele yang terjadi diantara kita berdua. aku yang masih egois dan dia sudah cukup sabar. aku yang seenaknya sendiri tapi dia juga penyabar.

aku bingung mau melepas yang mana, karna menurut ku saat ini aku sangat membutuhkan mereka..

Rabu, 09 Desember 2015

Jembatan ilusi

Entah aku yang bodoh atau dunia ini yang tidak mengajarkanku tentang bagaimana menjalani sebuah kehidupan, aku tetap berlari kencang menyongsong jurang yang lebar dan dalam di hadapanku. Setelah mencapai tepian, aku berusaha keras untuk membangun dan menciptakan sebuah jembatan ilusi untuk seseorang yang berdiri di seberang sana. Namun, aku tidak tahu apakah dia, yang berada di seberang sana, juga berusaha untuk membangun jembatan yang sama agar kami berdua bertemu dan bisa bersatu.
Dan pada akhirnya aku terlalu lelah untuk melanjutkan membangun jembatan tersebut, karena aku tahu ternyata dia tidak melakukan hal sama demi aku, demi masa depan kami. Jembatan itu, sebuah ilusi yang indah, telah hancur dan terjatuh dikedalaman jurang tak berdasar di hadapanku. 
(Adyastuti Fitria - Blurry Night)

Senin, 07 Desember 2015

Untitled

Beberapa hari ini, rasaku padamu perlahan memudar. Entah karna apa. Mungkin perdebatan yang tak kunjung usai? Perjalanan yang kita lalui sangat terjal, sampai-sampai kita selalu mempertaruhkan hubungan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun. Tidak hanya memudar, aku sudah merasa bosan padamu yang selalu menang sendiri, egois, keras kepala dll. Pada awalnya sabarku masih ada. Perlahan sabar ku sudah diujung tanduk. Aku tak tau harus bagaimana, sampai pada waktunya aku mencari kenyamanan pada lelaki lain. Dan dia berada di sekitarku. Dan secara tidak langsung juga aku merasa nyaman dengannya. Aku sangat tidak tau bagaimana perasaannya terhadapku saat ini. Yang aku tau, aku mulai tertarik dengan nya.

Mungkin aku dan dia sama sama mencari pelarian dari hubungan kami yang tidak menemui titik terang. Aku yang lelah dengan pasanganku dan dia yang sedang move on dari pasangan yang berbeda agama. Dan jika aku menjalin hubungan dengannya, itu tidak akan lama. Selain itu, aku juga menyadari bahwa aku dan dia tidak akan bisa bersama. Bukan  karna agama, mungkin dari sifat masing2.

Rasa sakit itu ada, hanya bagaimana kita menyingkapi nya saja :)

Kamu

Kamu. Adalah lelaki yang memuja ku pertama kali saat melihat ku.
Kamu. Adalah lelaki yang membingkaikan kata-kata manis untukku.
Tapi, pada kenyataannya itu hanya ungkapan sesaat. Ungkapan yang tak akan menjadi kenyataan. Karna, aku masih ada pemiliknya.
Sedangkan kamu? Tidak ada
Dan kamu melampiaskan rasa itu kepada wanita yang notabene tidak akan bisa bersamamu.
Kamu telah menjalani hubungan yang salah dengan wanita itu.
Kenapa kamu tetap mempertahankan hubungan itu?
Kenapa tidak menunggu ku? Atau memang kamu tidak benar benar memujaku?
Oh Tuhan, apakah ini ujian untukku? Aku dan Kamu sedang dalam posisi yang salah.
Tapi, nyaman itu datang ketika kamu berada disamping ku😂
Kali ini aku tidak akan berkata apa apa lqgi dan tidak berbuat apa apa lagi. Karna aku pasrah dengan rasa ini. Biarkan aku dan Tuhan yang tau perasaan ini. Semoga aku dan Tuhan bisa menyelesaikan ini

Rabu, 02 Desember 2015

Entah

Benerapa hari ini aku hanya ingin sendiri menangis sepuasnya meluapkan semua. Iya semua perasaan resah, dilema, marah, malu, sedih yang sudah lama aku pendam. Mungkin aku sudah terlalu lelah menghadapi kenyataan yang tidak seperti ekspektasiku. Aku harus bagaimana? Aku ingin maju tp ada sesuatu yang membuatku berat untuk melangkah, aku ingin tetap tinggal itu berarti aku harus menghadapi kenyataan kenyataan yang sebenarnya tidak di inginkan oleh hatiku. Aku harus melawannya setiap hari, ku buat seolah olah aku baik baik saja.

Padahal dalam hati aku meraung, ada banyak pertanyaan bergejolak yang ingin aku tanyakan padamu, iya kamu. "Kamu" yang membuat hari hariku cerah dan seketika mendung dalam waktu bersamaan. Tapi aku bingung mulutku selalu terkunci mana kala aku melihat sosokmu ada di sebelahku bersamaku. Mungkin aku terpana akan pesonamu atau aku hanya tidak sanggup untuk mengatakannya karna aku terlalu takut melihat reaksimu, takut mendengar jawabanmu, takut kamu tak akan mempedulikanku lagi karna mendengar pertanyaan pertanyaan bodohku.

Lalu aku harus bagaimana agar kamu tau? Aku tidak punya keberanian dan aku selalu terjebak dalam ketakutan ketakutan yg aku ciptakan sendiri.

"Kamu" bilang sayang aku, tapi kenapa kamu tidak merasa, aku tidak boleh mengatakan kamu tidak peka karena dirimu sangat peka. Kamu selalu meluangkan waktu untukku walau hanya sekedar makan berdua, menemuiku selesai mengerjakan tugas meskipun itu sangat larut malam hanya karna aku rindu, mencariku ketika aku gak ada kabar, menghiburku ketika aku ngambek, nurutin apa mauku yang sebenarnya kamu gak suka.Ah kenapa kamu menjadi sosok yang aku idamkan?
Lalu dalam waktu bersamaan, seketika kamu berubah jadi sosok yang tidak kusuka. Seenakmu sendiri dan gak mempedulikan bagaimana perasaanku. Hmmm sudahlah tidak perlu kutuliskan sisi lain dari dirimu yang tak kusukai. Atau aku saja yang kurang mengerti kamu dan kurang bersyukur dengan kehadiranmu di hari hariku?

Entah.... aku tidak tau

Kamu membuatku terombang ambing (mas!) dengan sejuta pertanyaan yang menggelitik, yang gak tau kapan harus aku tanyakan.
aku hanya punya kesabaran dan ketulusan, yang aku persembahkan padamu untuk mewakili semua perasaanku terhadapku. Hanya itu (mas!)

Selasa, 01 Desember 2015

Because a broken heart is what changes people

"Walaupun setiap hubungan akan berakhir, entah berakhir bahagia atau pahit. Jangan pernah menyesal.
Karena semuanya tidak bisa diulang dan diperbaiki di masa lalu.
Setidaknya kamu pernah mencintai dengan tulus walau tidak berakhir mulus.
Setidaknya pernah berusaha walaupun disepelekan
Setidaknya paham tentang komitmen bersama untuk saling bertahan dalam kondisi sulit
Setidaknya setia pada suatu pilihan dengan segala pertanggungjawaban, entah meninggalkan atau memilih bertahan
Hingga akhirnya suatu hari sadar mungkin kamu memang pantas untuk dapat yang lebih baik, entah orang yang lebih baik atau cerita yang lebih baik
Bukan yang sempurna, karena ketika kamu mencari yang sempurna kamu akan kehilangan yang terbaik
Dan mungkin suatu saat, entah kapan, ada bagian yang sadar bahwa ada yang telah merasa kehilangan
Baiknya, jadilah orang yang berkualitas, yang bisa memberi arti dalam suatu hubungan yang mampu memberi kenangan, yang mampu bangkit ketika harus jatuh berkali-kali, yang mampu memaafkan secara perlahan atau bahkan yang dengan ikhlas memberikan kesempatan kedua (jika ditakdirkan)
Bukan hanya yang memberi atau meninggalkan luka pahit, serta berfikir ini cuma "cinta monyet" , atau cuma permainan yang ga perlu dibawa serius. Kamu yakin?
Karena kita tidak tahu setelah kamu menyakitinya, apakah setelah semua yang terjadi dia masih orang yang sama.
Because a broken heart is what changes people."

Sabtu, 04 Oktober 2014

kembalikan



Kemarin adalah hari yang ingin aku ulang, hari dimana aku bisa menatapnya dari jauh, menatap nya dari belakang. Dia yang ku kenal dulu sangat lah berbeda dengan yang sekarang. Tatapan matanya yang tajam, badannya yang atletis. Sangat berbeda saat dia bersama ku. Dulu. Saat dia menatap ku pun ada hasrat untuk menyapa. Apa daya, rasa kecewa ku sebesar dengan rasa rinduku, aku bingung harus bagaimana. Yang bisa aku lakukan saat itu adalah hanya menetaskan air mata dibahu sahabatku. Aku sangat merindukan dia. Apa dia juga merindukan ku? Itu pertanyaan yang sangat aku nggak bisa jawab sampai saat ini. Tapi dari pesan yang dia kirim beberapa bulan lalu menunjukkan kalau dia sangat menginginkan aku pergi dari hidupnya. Dia adalah laki laki yang sangat diimpikan oelh banyak kaum hawa dan salah satu nya adalah aku. Pratama Hadi Suwono
Setiap malam setiap bulan dalam satu tahun ini yang aku rasakan adalah penyesalan. Penyesalan yang sangat aku sesalkan seumur hidupku. Rasa bersalah selalu menyelimuti ku. Seandainya bisa kuputar aku akan tidak akan melakukan kesalahan yang sangat fatal untukku.
aku masih mengingat pertama kali kita berkenalan, pertama kali bercanda gurau. Waktu itu kita kelas satu SMA. Pada awalnya kita berbeda kelas. Dan kemudian kita satu kelas. Kamu sangat terlihat pendiam dikelas. Aku masih ingat waktu itu kamu duduk dengan siapa. Temanku, Wawan. Dari situlah aku mengenal mu. Lambat laun aku mengenalmu dan akrab bersama mu. Pada saat itu aku hanya menganggapmu sahabat. Karna aku sangat menyukai teman sekelas kita, Adi. Aku terpesona padanya saat pertama kali melihat dia. Aku selalu bercerita tentang Adi, dan kamu selalu membuat aku bisa berpikir lebih dewasa. Saran-saran yang kamu berikan sangat lah berguna dan aku selalu menerapkan ke Adi. Tapi Adi selalu bersikap seperti anak kecil, aku muak tapi aku sangat sayang padanya. Hubungan ku dengan Adi berlanjut hingga kelas 2 SMA.
Aku sangat ingat hari itu, sangat bersejarah. Karena hari itu aku sedang berlatih untuk lomba keesokkan harinya tapi mood ku sangat dihancurkan oleh Adi. Pagi hari dia meminta ku untuk memutuskan hubungan antara Kita. Aku shock, aku marah, aku kecewa kepada Adi. Karna alasan dia sungguh sangat tidak masuk akal. Hari itu sungguh hari yang aku nggak mau aku lewati. Seharian di kelas aku hanya bisa meneteskan air mata.
“Ra, km kenapa? Kok nangis sesenggukkan gitu?” Tata mendekatiku perlahan dan aku hanya bisa memeluknya.
“Adi, Ta. Adi..” aku hanya bisa menangis dipundak Tata.
Setelah Tata menghampiriku, semua teman sekelasku menghampiriku. Tak terkecuali Tama. Dia sangat marah pada Adi. Setelah tahu keadaan ku seperti apa, Dia berlari keluar pintu menuju keluar Adi. Tapi belum sampai didepan pintu kelas, dia dihadang oleh teman ku, Bagus.
“mau kemana kamu tam?” Bagus menghentikan Tama dengan menahan badannya.
“kemana lagi kalau nggak kekelas nya si Adi brengsek itu. Rara dibikin nangis sesenggukkan gitu” jelas Tama dengan muka marah.
“nggak usah dibikin rame, mending kamu tenangin si Rara tuh” Bagus berusaha menenangkan hatin Tama.
Setelah Bagus menenangkan Tama, Dia menghampiriku dan duduk disampingku. Aku memeluknya. Tangis ku menjadi-jadi saat dia memelukku. Dia hanya bisa membalasnya dan menenangkanku dengan pelukan eratnya.  
Seharian pelajaran tak masuk diotakku sampai bel pulang berbunyi. Aku membereskan semua bukuku dan aku tidak langsung beranjak dari tempat duduk ku. Aku terdiam dikelas. Walaupun kelas tempat ku duduk sekarang ramainya minta ampun, aku masih merasa sangat sepi. Semua temanku menyemangati ku agar aku tetap bisa bahagia walaupun tak bersama Adi. Aku hanya bisa membalas dengan tersenyum. Tiba-tiba Tama mendekatiku
“yuk, tak anterin pulang. Jangan sedih mulu ah. Gak suka aku lihatnya” rayu Tama padaku.
Aku hanya menuruti dia. Aku berjalan dibelakangnya ke tempat dia memarkir motornya. Aku berjalan dengan melihat yang aku tapaki. Disaat aku salah jalan Tama langsung tanpa canggung memegang tanganku. Aku hanya menuruti nya. Sesampainya dirumah, selayaknya tuan rumah aku membuatkan dia minum.
“mau minum apa Tam? Es the? Es sirup? Atau..?” belum selesai aku bertanya dia menghampiriku dan tanpa banyak bicara dia memelukku  sambil berbisik “kamu nggak akan pernah sendiri ra. Aku akan selalu melindungi kamu.” Aku tak bisa berkata apa-apa, aku hanya bisa membalas dengan pelukan yang erat.
Setelah kejadian dia memelukku, aku semakin dekat dengan Tama. Tak terasa sudah 1 bulan aku dekat dengan Tama. Aku bahagia, perlahan aku melupakan Adi. Tama sangat menjagaku. Dia selalu bertanya siapa saja yang menghubungiku. dia selalu melindungiku. selalu. pada suatu hari Tama mendatangi ku kerumah
"yuk jalan, aku mau jalan-jalan ni. ayok buruan mandi" ujarnya ketika dia tahu  kalau aku belum menyentuh air pagi ini
"iya-iya sabar ya nunggu aku mandi hihi" godaku pada nya.
hari itu aku sama sekali tidak mempunyai firasat kalau Adi akan datang kerumah ku. belum selesai aku mandi dia sudah didepan rumah dan meneriaki namaku
"Ra, rara" begitu tau didalam rumah ku ada Tama. Adi menanyakan ku pada Tama. "Tam, Rara mana?" tanya Adi dengan nada ketus
"Rara lagi mandi, tungguin aja" jawab Tama yang hanya duduk tanpa bergerak sedikitpun.
"Tam, ada tamu tadi?" tanyaku setelah aku ganti baju
"ada, si Adi tuh nyariin kamu" jawab Tama dengan nada yang sangat bete
tanpa aku membalas Tama aku berlari menuju Adi
"Di, ada apa?"
"aku harus bicara sama kamu Ra. harus. sekarang"
"yaudah masuk aja, didalem juga ada Tama kok"
"aku nggak mau kalo ada Tama, aku harus ngomong sama kamu berdua aja Ra."
 "oke"
kami berdua pun masuk rumah, dan aku bilang pada Tama untuk menungguku karna aku ingin bicara dengan Adi dikamarku. Aku melangkah ke kamar dan Adi mengikutiku dari belakang dan Adi menutup pintu kamar. aku bisa melihat wajah Tama yang melihat ku dari luar kamar dan menghilang sembari pintu kamar ditutup.
"ada apa?" aku membuka pertanyaan kepada Adi
dia pun berlutut didepan ku "aku menyesal dan aku ingin kembali sama kamu Ra". mendengar itu aku shock, sangat shock
"apa?" aku mulai menitihkan air mata. "kamu? mau balik sama aku? kamu sudah mikir apa salah kamu?" aku sudah tidak bisa menahan air mata ku. 
"maaf, maaf soal keputusan ku kemarin. aku bener-bener khilaf. maafin aku Ra. maafin. aku kayak gitu karna dibawah paksaan.." dia tidak melanjutkan perkataannya
"paksaan? siapa yang maksa kamu? jawab Di. JAWAB! kenapa kamu nggak minta cerita sama aku kalau kamu lagi dibawah paksaan orang? aku kamu anggep apa? patung berjalan? atau emang aku nggak pernah kamu anggep?" amarah ku muncul seketika
"kamu nggak perlu tahu siapa orang nya..." belum selesai Adi menjelaskan aku sudah memotongnya "apa? aku nggak perlu tahu? aku nggak perlu tahu? kamu mau balik sama kau tapi aku nggak boleh tau dia siapa? itu sama aja aku nggak kamu anggep dan kamu nggak terbuka sama aku. percuma kita balik kalau dari kamunya nggak mau berubah"
"bukan gitu maksud aku"
"kamu sudah tidak jujur sama aku, kamu sudah melakukan kesalahan fatal. sangat fatal. maaf kita nggak bisa balik. kemarin kamu buang aku kayak sampah sekarang kamu mau balik sama aku? jilat omongan mu sendiri? sadar how can you grow up kalo kamu nggak jaga omongan mu sendiri?" susah payah aku menahan air mata ini agar tidak keluar semua tapi usaha ku gagal. aku menangis didepan adi.
"oke kalau kita nggak bisa balik lagi. ijinkan aku untuk terakhir kalinya memelukmu" pinta Adi sambil membuka tangan nya untuk memelukku
tanpa mengatakan iya dia langsung memelukku dan berbisik "aku masih sayang kamu" kemudian Adi melepaskan pelukannya dan keluar kamar. aku hanya bisa menangis
aku duduk termenung di dalam kamar, menangis terisak-isak. karna menyadari aku tidak keluar. Tama menghampiriku ke dalam kamar dan langsung memelukku.
"ada apa? dia nyakitin kamu lagi?" tanya nya sangat halus
"dia minta balik Tam. setelah dia buang aku kayak sampah dia mau balik sama aku? aku nggak mau Tam. aku nggak mau Tam"
"yasudah kalo emang nggak mau yasuda" dia melepaskan pelukannya kemudian memandangku. "jangan kamu tetesin airmata kamu buat dia lagi. aku mohon. aku seneng kalo kamu bahagia dan seneng"
aku tersenyum melihat sosok yang didepan ku, aku pun bersyukur bisa bersamanya. sangat bersyukur
"hmm aus nih, bikinin minum dong hehe tak tunggu disini ya" ujarnya sambil mengusap rambutku. aku tahu yang dilakukan nya itu hanya membahagiakan ku saja tapi aku menerimanya dan kemudia aku berjalan menuju dapur dan membuatkannya minum.
"nih" sambil menyodorkan segelas es teh 
"duduk sini Ra, mau ngomong" ujar Tama mempersilahkan ku duduk di sebelahnya
kemudian dia memposisikan berhadapan dengan ku dan memegang tangan ku "Ra, kamu tau nggak aku suka sama kamu?"
aku hanya mengangguk
"tau dari kapan?" 
aku menggeleng
"dari pertama ketemu kamu. aku suka banget sama kamu. tapi berhubung kamu suka sama Adi yaa selayaknya sahabat aku menjaga diri dan perasaanku" genggaman tangannya semakin kuat
"aku sayang sama kamu Ra. aku nggak mau kalo Adi bikin kamu gini lagi. Ra, mau nggak kamu jadi pacar aku"
aku tersentak mendengar itu, sangat tersentak. aku membalas erat genggaman Tama. Tama adalah laki-laki yang aku harapkan. tanpa pikir panjang aku mengiyakan tawaran Tama dan memeluknya. hal yang dilakukan Tama barusan adalah hal yang tidak aku duga sebelumnya. 
hari ku saat itu dan setahun berikutnya adalah hal terindah. walaupun Adi tetap berusaha untuk menemui ku dan berusaha kembali padaku, Tama tetap sabar menghadapiku. hubungan ku dengan Tama sangat tentram, jarang sekali terjadi konflik. kalaupun ada konflik kita bisa menyelesaikan nya bersama-sama. konflik kita hanya Adi. 
dan puncak kesabaran Tama adalah disaat dia meminta ijin padaku kalau dia ingin ke rumah nya yang di luar kota.aku mengiyakan ijinnya. tiba-tiba hapeku berbunyi dan aku cek ada sms masuk
nyet (panggilan Adi untukku) aku kerumah ya? km dirumah kan ya?
aku membalas dengan tiga huruf iya dan aku langsung kirim ke Adi
tak lama aku membalas Adi sudah didepan rumah. dan aku mempersilahkan dia masuk. tak kusangka aku ngobrol asik dengan nya. dan kemudian aku ingat kalau aku ingin mengembalikan barang temanku dan aku memintanya untuk mengantar kan ku kerumah temanku.
disaat aku didepan rumah, diseberang jalan aku melihat sosok yang sangat aku kenal. TAMA. dia memasang muka tajam yang tak pernah kulihat sebelumnya. aku berhenti sejenak dan mengikuti Adi. tapi aku meminta Adi berhenti dan menyuruh Adi pergi kemudian aku lari kembali kerumah dan aku menarik Tama dan meminta maaf. dia tidak menghiraukan ku dan pergi
aku bingung harus bagaimana. tak berpikir panjang aku pun langsung pergi kerumahnya yang jauhnya minta ampun. aku tak peduli betapa jauhnya jarak antara rumah ku dan rumahnya. yang penting aku bisa bertemu dengannya. sesampainya dirumah Tama, aku langsung menelpon Tama dan mengatakan aku didepan rumahnya. aku sengaja tidak masuk karna aku takut oleh orang tuanya. aku belum siap dicaci maki oleh orang tuanya. tiga jam aku menunggu didepan rumah nya tapi tidak ada tanda kehadiran dari Tama. aku sudah putus asa menunggu, tapi sosok yang aku inginkan datang kearahku. dia hanya diam 
"aku minta maaf Tam. aku minta maaf. can we back?"
dia hanya diam dan menatapku
"kita kayak awal dulu aja, temenan" pintanya
mendengar hal itu rasanya aku digampar seribu kali. dan aku tak bisa menahan air mata ku. selain itu aku harap tangisan ku juga meluluhkan hatinya dia. tapi..
"aku nggak mau, kita tetep pacaran dan aku nggak akan ketemuin dia lagi"
"udah, kita temenan aja. kamu juga gak bisa kan kalo nggak ketemu dia juga" Tama mengatakan dengan mata memerah dan wajah yang sangat aku ingin ciumi.
aku hanya bisa menatapnya dan berjalan pulang. ditengah perjalanan, ternyata dia mengikuti ku dari belakang. dia menyampaikan salam perpisahan ditengah jalan. aku menangis selama satu jam perjalanan. 
hari-hari ku sangat berbeda ketika aku sudah tak lagi dengannya. aku berulang kali meminta agar kita bisa kembali sepert dulu, tapi yang aku dengar adalah jawaban yang sama. aku tak tau harus berbuat apa.
hari itu ditaman sekolah
"Tam, ngobrol bentar yuk" aku mempersilahkan duduk disampingku dan dia menurutiku
"ada apa Ra?" jawab Tama dengan wajah yang tajam dan suara yang lembut tapi tegas
"umm.. obrolan ku nggak jauh beda kok sama yg di sms. aku pengen balik"
dia tersenyum manis "Rara, kita nggak perlu balik. kan kita udah nggak bisa dipisahkan?"
aku menghela nafas sebelum menjawab "tapi Tam, bentar lagi kita kuliah dan pasti ada cewek yang nyita perhatian mu. aku gak mau itu sampek kejadian Tam" 
Tama memegang tangan ku "percaya sama aku, aku nggak aneh-aneh selama kuliah. aku cuma mau kuliah dan aku gak pacaran lagi kok. kamu yang terakhir" tangan halusnya menyentuh rambut berombak ku. aku terharu mendengar pernyataan Tama dan langsung percaya.
waktu bergulir sangat cepat, tak terasa masa putih abu sekarang sudah berganti. aku memasuki perguruan tinggi sama dengan Tama dan Adi. aku 1 fakultas dengan Adi dan 1 kampus dengan Tama. tak terasa sudah 2 semester aku kuliah dan aku tak tahu sama sekali kabar dari Tama. aku mendengar kalau dia sudah bahagia dengan perempuan pilihannya. aku tahu hal itu dan aku hanya tersenyum menutup kesedihan ku. aku bisa apa selain itu?
bertemu dengan Tama adalah hal yang aku impikan saat ini. aku ingin mengulang hal kemarin, disaat melihat sorot mata nya dan melihat senyum nya yang hangat.
kembalikan Tama ku tuhan. kembalikan dia beserta perasaannya padaku....