Kemarin adalah hari yang ingin
aku ulang, hari dimana aku bisa menatapnya dari jauh, menatap nya dari
belakang. Dia yang ku kenal dulu sangat lah berbeda dengan yang sekarang. Tatapan
matanya yang tajam, badannya yang atletis. Sangat berbeda saat dia bersama ku. Dulu.
Saat dia menatap ku pun ada hasrat untuk menyapa. Apa daya, rasa kecewa ku sebesar
dengan rasa rinduku, aku bingung harus bagaimana. Yang bisa aku lakukan saat
itu adalah hanya menetaskan air mata dibahu sahabatku. Aku sangat merindukan
dia. Apa dia juga merindukan ku? Itu pertanyaan yang sangat aku nggak bisa
jawab sampai saat ini. Tapi dari pesan yang dia kirim beberapa bulan lalu
menunjukkan kalau dia sangat menginginkan aku pergi dari hidupnya. Dia adalah
laki laki yang sangat diimpikan oelh banyak kaum hawa dan salah satu nya adalah
aku. Pratama Hadi Suwono
Setiap malam setiap bulan dalam
satu tahun ini yang aku rasakan adalah penyesalan. Penyesalan yang sangat aku
sesalkan seumur hidupku. Rasa bersalah selalu menyelimuti ku. Seandainya bisa
kuputar aku akan tidak akan melakukan kesalahan yang sangat fatal untukku.
aku masih mengingat pertama kali kita
berkenalan, pertama kali bercanda gurau. Waktu itu kita kelas satu SMA. Pada awalnya
kita berbeda kelas. Dan kemudian kita satu kelas. Kamu sangat terlihat pendiam
dikelas. Aku masih ingat waktu itu kamu duduk dengan siapa. Temanku, Wawan. Dari
situlah aku mengenal mu. Lambat laun aku mengenalmu dan akrab bersama mu. Pada saat
itu aku hanya menganggapmu sahabat. Karna aku sangat menyukai teman sekelas
kita, Adi. Aku terpesona padanya saat pertama kali melihat dia. Aku selalu
bercerita tentang Adi, dan kamu selalu membuat aku bisa berpikir lebih dewasa. Saran-saran
yang kamu berikan sangat lah berguna dan aku selalu menerapkan ke Adi. Tapi Adi
selalu bersikap seperti anak kecil, aku muak tapi aku sangat sayang padanya. Hubungan
ku dengan Adi berlanjut hingga kelas 2 SMA.
Aku sangat ingat hari itu, sangat
bersejarah. Karena hari itu aku sedang berlatih untuk lomba keesokkan harinya
tapi mood ku sangat dihancurkan oleh Adi. Pagi hari dia meminta ku untuk
memutuskan hubungan antara Kita. Aku shock, aku marah, aku kecewa kepada Adi. Karna
alasan dia sungguh sangat tidak masuk akal. Hari itu sungguh hari yang aku
nggak mau aku lewati. Seharian di kelas aku hanya bisa meneteskan air mata.
“Ra, km kenapa? Kok nangis
sesenggukkan gitu?” Tata mendekatiku perlahan dan aku hanya bisa memeluknya.
“Adi, Ta. Adi..” aku hanya bisa
menangis dipundak Tata.
Setelah Tata menghampiriku, semua
teman sekelasku menghampiriku. Tak terkecuali Tama. Dia sangat marah pada Adi. Setelah
tahu keadaan ku seperti apa, Dia berlari keluar pintu menuju keluar Adi. Tapi belum
sampai didepan pintu kelas, dia dihadang oleh teman ku, Bagus.
“mau kemana kamu tam?” Bagus
menghentikan Tama dengan menahan badannya.
“kemana lagi kalau nggak kekelas nya
si Adi brengsek itu. Rara dibikin nangis sesenggukkan gitu” jelas Tama dengan
muka marah.
“nggak usah dibikin rame, mending
kamu tenangin si Rara tuh” Bagus berusaha menenangkan hatin Tama.
Setelah Bagus menenangkan Tama,
Dia menghampiriku dan duduk disampingku. Aku memeluknya. Tangis ku menjadi-jadi
saat dia memelukku. Dia hanya bisa membalasnya dan menenangkanku dengan pelukan
eratnya.
Seharian pelajaran tak masuk
diotakku sampai bel pulang berbunyi. Aku membereskan semua bukuku dan aku tidak
langsung beranjak dari tempat duduk ku. Aku terdiam dikelas. Walaupun kelas tempat
ku duduk sekarang ramainya minta ampun, aku masih merasa sangat sepi. Semua temanku
menyemangati ku agar aku tetap bisa bahagia walaupun tak bersama Adi. Aku hanya
bisa membalas dengan tersenyum. Tiba-tiba Tama mendekatiku
“yuk, tak anterin pulang. Jangan
sedih mulu ah. Gak suka aku lihatnya” rayu Tama padaku.
Aku hanya menuruti dia. Aku berjalan
dibelakangnya ke tempat dia memarkir motornya. Aku berjalan dengan melihat yang
aku tapaki. Disaat aku salah jalan Tama langsung tanpa canggung memegang
tanganku. Aku hanya menuruti nya. Sesampainya dirumah, selayaknya tuan rumah
aku membuatkan dia minum.
“mau minum apa Tam? Es the? Es sirup?
Atau..?” belum selesai aku bertanya dia menghampiriku dan tanpa banyak bicara
dia memelukku sambil berbisik “kamu
nggak akan pernah sendiri ra. Aku akan selalu melindungi kamu.” Aku tak bisa berkata
apa-apa, aku hanya bisa membalas dengan pelukan yang erat.
Setelah kejadian dia memelukku,
aku semakin dekat dengan Tama. Tak terasa sudah 1 bulan aku dekat dengan Tama. Aku
bahagia, perlahan aku melupakan Adi. Tama sangat menjagaku. Dia selalu bertanya
siapa saja yang menghubungiku. dia selalu melindungiku. selalu. pada suatu hari Tama mendatangi ku kerumah
"yuk jalan, aku mau jalan-jalan ni. ayok buruan mandi" ujarnya ketika dia tahu kalau aku belum menyentuh air pagi ini
"iya-iya sabar ya nunggu aku mandi hihi" godaku pada nya.
hari itu aku sama sekali tidak mempunyai firasat kalau Adi akan datang kerumah ku. belum selesai aku mandi dia sudah didepan rumah dan meneriaki namaku
"Ra, rara" begitu tau didalam rumah ku ada Tama. Adi menanyakan ku pada Tama. "Tam, Rara mana?" tanya Adi dengan nada ketus
"Rara lagi mandi, tungguin aja" jawab Tama yang hanya duduk tanpa bergerak sedikitpun.
"Tam, ada tamu tadi?" tanyaku setelah aku ganti baju
"ada, si Adi tuh nyariin kamu" jawab Tama dengan nada yang sangat bete
tanpa aku membalas Tama aku berlari menuju Adi
"Di, ada apa?"
"aku harus bicara sama kamu Ra. harus. sekarang"
"yaudah masuk aja, didalem juga ada Tama kok"
"aku nggak mau kalo ada Tama, aku harus ngomong sama kamu berdua aja Ra."
"oke"
kami berdua pun masuk rumah, dan aku bilang pada Tama untuk menungguku karna aku ingin bicara dengan Adi dikamarku. Aku melangkah ke kamar dan Adi mengikutiku dari belakang dan Adi menutup pintu kamar. aku bisa melihat wajah Tama yang melihat ku dari luar kamar dan menghilang sembari pintu kamar ditutup.
"ada apa?" aku membuka pertanyaan kepada Adi
dia pun berlutut didepan ku "aku menyesal dan aku ingin kembali sama kamu Ra". mendengar itu aku shock, sangat shock
"apa?" aku mulai menitihkan air mata. "kamu? mau balik sama aku? kamu sudah mikir apa salah kamu?" aku sudah tidak bisa menahan air mata ku.
"maaf, maaf soal keputusan ku kemarin. aku bener-bener khilaf. maafin aku Ra. maafin. aku kayak gitu karna dibawah paksaan.." dia tidak melanjutkan perkataannya
"paksaan? siapa yang maksa kamu? jawab Di. JAWAB! kenapa kamu nggak minta cerita sama aku kalau kamu lagi dibawah paksaan orang? aku kamu anggep apa? patung berjalan? atau emang aku nggak pernah kamu anggep?" amarah ku muncul seketika
"kamu nggak perlu tahu siapa orang nya..." belum selesai Adi menjelaskan aku sudah memotongnya "apa? aku nggak perlu tahu? aku nggak perlu tahu? kamu mau balik sama kau tapi aku nggak boleh tau dia siapa? itu sama aja aku nggak kamu anggep dan kamu nggak terbuka sama aku. percuma kita balik kalau dari kamunya nggak mau berubah"
"bukan gitu maksud aku"
"kamu sudah tidak jujur sama aku, kamu sudah melakukan kesalahan fatal. sangat fatal. maaf kita nggak bisa balik. kemarin kamu buang aku kayak sampah sekarang kamu mau balik sama aku? jilat omongan mu sendiri? sadar how can you grow up kalo kamu nggak jaga omongan mu sendiri?" susah payah aku menahan air mata ini agar tidak keluar semua tapi usaha ku gagal. aku menangis didepan adi.
"oke kalau kita nggak bisa balik lagi. ijinkan aku untuk terakhir kalinya memelukmu" pinta Adi sambil membuka tangan nya untuk memelukku
tanpa mengatakan iya dia langsung memelukku dan berbisik "aku masih sayang kamu" kemudian Adi melepaskan pelukannya dan keluar kamar. aku hanya bisa menangis
aku duduk termenung di dalam kamar, menangis terisak-isak. karna menyadari aku tidak keluar. Tama menghampiriku ke dalam kamar dan langsung memelukku.
"ada apa? dia nyakitin kamu lagi?" tanya nya sangat halus
"dia minta balik Tam. setelah dia buang aku kayak sampah dia mau balik sama aku? aku nggak mau Tam. aku nggak mau Tam"
"yasudah kalo emang nggak mau yasuda" dia melepaskan pelukannya kemudian memandangku. "jangan kamu tetesin airmata kamu buat dia lagi. aku mohon. aku seneng kalo kamu bahagia dan seneng"
aku tersenyum melihat sosok yang didepan ku, aku pun bersyukur bisa bersamanya. sangat bersyukur
"hmm aus nih, bikinin minum dong hehe tak tunggu disini ya" ujarnya sambil mengusap rambutku. aku tahu yang dilakukan nya itu hanya membahagiakan ku saja tapi aku menerimanya dan kemudia aku berjalan menuju dapur dan membuatkannya minum.
"nih" sambil menyodorkan segelas es teh
"duduk sini Ra, mau ngomong" ujar Tama mempersilahkan ku duduk di sebelahnya
kemudian dia memposisikan berhadapan dengan ku dan memegang tangan ku "Ra, kamu tau nggak aku suka sama kamu?"
aku hanya mengangguk
"tau dari kapan?"
aku menggeleng
"dari pertama ketemu kamu. aku suka banget sama kamu. tapi berhubung kamu suka sama Adi yaa selayaknya sahabat aku menjaga diri dan perasaanku" genggaman tangannya semakin kuat
"aku sayang sama kamu Ra. aku nggak mau kalo Adi bikin kamu gini lagi. Ra, mau nggak kamu jadi pacar aku"
aku tersentak mendengar itu, sangat tersentak. aku membalas erat genggaman Tama. Tama adalah laki-laki yang aku harapkan. tanpa pikir panjang aku mengiyakan tawaran Tama dan memeluknya. hal yang dilakukan Tama barusan adalah hal yang tidak aku duga sebelumnya.
hari ku saat itu dan setahun berikutnya adalah hal terindah. walaupun Adi tetap berusaha untuk menemui ku dan berusaha kembali padaku, Tama tetap sabar menghadapiku. hubungan ku dengan Tama sangat tentram, jarang sekali terjadi konflik. kalaupun ada konflik kita bisa menyelesaikan nya bersama-sama. konflik kita hanya Adi.
dan puncak kesabaran Tama adalah disaat dia meminta ijin padaku kalau dia ingin ke rumah nya yang di luar kota.aku mengiyakan ijinnya. tiba-tiba hapeku berbunyi dan aku cek ada sms masuk
nyet (panggilan Adi untukku) aku kerumah ya? km dirumah kan ya?
aku membalas dengan tiga huruf iya dan aku langsung kirim ke Adi
tak lama aku membalas Adi sudah didepan rumah. dan aku mempersilahkan dia masuk. tak kusangka aku ngobrol asik dengan nya. dan kemudian aku ingat kalau aku ingin mengembalikan barang temanku dan aku memintanya untuk mengantar kan ku kerumah temanku.
disaat aku didepan rumah, diseberang jalan aku melihat sosok yang sangat aku kenal. TAMA. dia memasang muka tajam yang tak pernah kulihat sebelumnya. aku berhenti sejenak dan mengikuti Adi. tapi aku meminta Adi berhenti dan menyuruh Adi pergi kemudian aku lari kembali kerumah dan aku menarik Tama dan meminta maaf. dia tidak menghiraukan ku dan pergi
aku bingung harus bagaimana. tak berpikir panjang aku pun langsung pergi kerumahnya yang jauhnya minta ampun. aku tak peduli betapa jauhnya jarak antara rumah ku dan rumahnya. yang penting aku bisa bertemu dengannya. sesampainya dirumah Tama, aku langsung menelpon Tama dan mengatakan aku didepan rumahnya. aku sengaja tidak masuk karna aku takut oleh orang tuanya. aku belum siap dicaci maki oleh orang tuanya. tiga jam aku menunggu didepan rumah nya tapi tidak ada tanda kehadiran dari Tama. aku sudah putus asa menunggu, tapi sosok yang aku inginkan datang kearahku. dia hanya diam
"aku minta maaf Tam. aku minta maaf. can we back?"
dia hanya diam dan menatapku
"kita kayak awal dulu aja, temenan" pintanya
mendengar hal itu rasanya aku digampar seribu kali. dan aku tak bisa menahan air mata ku. selain itu aku harap tangisan ku juga meluluhkan hatinya dia. tapi..
"aku nggak mau, kita tetep pacaran dan aku nggak akan ketemuin dia lagi"
"udah, kita temenan aja. kamu juga gak bisa kan kalo nggak ketemu dia juga" Tama mengatakan dengan mata memerah dan wajah yang sangat aku ingin ciumi.
aku hanya bisa menatapnya dan berjalan pulang. ditengah perjalanan, ternyata dia mengikuti ku dari belakang. dia menyampaikan salam perpisahan ditengah jalan. aku menangis selama satu jam perjalanan.
hari-hari ku sangat berbeda ketika aku sudah tak lagi dengannya. aku berulang kali meminta agar kita bisa kembali sepert dulu, tapi yang aku dengar adalah jawaban yang sama. aku tak tau harus berbuat apa.
hari itu ditaman sekolah
"Tam, ngobrol bentar yuk" aku mempersilahkan duduk disampingku dan dia menurutiku
"ada apa Ra?" jawab Tama dengan wajah yang tajam dan suara yang lembut tapi tegas
"umm.. obrolan ku nggak jauh beda kok sama yg di sms. aku pengen balik"
dia tersenyum manis "Rara, kita nggak perlu balik. kan kita udah nggak bisa dipisahkan?"
aku menghela nafas sebelum menjawab "tapi Tam, bentar lagi kita kuliah dan pasti ada cewek yang nyita perhatian mu. aku gak mau itu sampek kejadian Tam"
Tama memegang tangan ku "percaya sama aku, aku nggak aneh-aneh selama kuliah. aku cuma mau kuliah dan aku gak pacaran lagi kok. kamu yang terakhir" tangan halusnya menyentuh rambut berombak ku. aku terharu mendengar pernyataan Tama dan langsung percaya.
waktu bergulir sangat cepat, tak terasa masa putih abu sekarang sudah berganti. aku memasuki perguruan tinggi sama dengan Tama dan Adi. aku 1 fakultas dengan Adi dan 1 kampus dengan Tama. tak terasa sudah 2 semester aku kuliah dan aku tak tahu sama sekali kabar dari Tama. aku mendengar kalau dia sudah bahagia dengan perempuan pilihannya. aku tahu hal itu dan aku hanya tersenyum menutup kesedihan ku. aku bisa apa selain itu?
bertemu dengan Tama adalah hal yang aku impikan saat ini. aku ingin mengulang hal kemarin, disaat melihat sorot mata nya dan melihat senyum nya yang hangat.
kembalikan Tama ku tuhan. kembalikan dia beserta perasaannya padaku....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar